Thursday, December 16, 2010

Rahsia Nikmatnya Hidup

sujud-syukur-1



Bila hidup ini tidak halangan, tentu tidak menarik. Terlebih dahulu di-cast dengan ilmu, lalu kita amalkan dalam kehidupan, seperti bertarung dalam kehidupan nyata ini. Tapi kita harus benar-benar dapat mengukur diri kita. Misalnya, ketika terjadi pertemuan dengan kalangan tertentu, yang membuat keimanan kita turun, bererti pertemuan itu tidak bagus untuk kita. Bererti iman kita belum cukup untuk dapat menangkis pengaruh negatif dari kelompok itu. Maka untuk sementara waktu kita perlu berhijrah dari lingkungan tersebut, dalam rangka menguatkan diri. Sehingga pada waktunya, kita sudah sedia untuk terjun ke dalam kehidupan sebenar, namun kita sudah berbekal dengan kemampuan yang lebih baik. Kita harus mendakwahi mereka, ketika kita sudah yakin dengan kekuatan diri kita. Di-cast dapat juga dengan cara berkumpul dengan orang-orang soleh. Diamnya saja akan berpengaruh terhadap keyakinan kita.


Yang paling membuat hidup kita tidak selesa adalah kebingungan, ragu-ragu, dan keraguan, kerana setiap yang meragukan membuat hidup kita tidak jelas. Dalam menjalani hidup ini, apabila belum mengenal peta hidup dengan jelas, maka menyebabkan hidup menjadi gamang, ragu, dan sangat meletihkan.

Dalam menjalani hidup ini, harus jelas hala tujunya dan bagaimana dalam melangkahnya, siapa Tuhan kita, siapa kita, apa yang bahaya, dan apa yang menyelamatkan, akan ke mana kita, dan sebagainya. Kalau sudah semuanya jelas, maka akan mantap dan tidak akan bingung dalam menjalani hidup.

Manusia diciptakan dan diurus oleh Allah SWT. Tugas kita di dunia ini adalah menjadi hamba Allah. Mematuhi apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah. Perkara rezeki adalah mutlak dalam genggaman Allah. Kalau kita patuh kepada Allah dan yakin dengan kekuasaan Allah, Sang Pemberi rejeki pasti akan menjamin segala keperluan rezekinya.


Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.
(QS At-Thalaq : 2-3)

Kita bekerja bukan hanya untuk mencari wang, tapi merupakan amal soleh dalam menjemput rezeki atau nafkah kita. Yang dicari keberkahan dan redha Allah SWT. Orang yang mencari redha Allah tidak akan ragu kepada Allah SWT sebagai pemberi rezeki, pasti kita akan bertemu dengan rezeki kita, sehingga tidak akan mahu berbuat haram. Kalau seseorang tidak mencari redha Allah, maka ia akan menghalalkan berbagai cara.

Dengan demikian, berbeza antara orang yang bekerja hanya untuk mencari wang, dengan orang yang bekerja untuk mencari redha-Nya. Orang yang mencari redha Allah, sama sekali tiada keraguan, yakin pasti bertemu dengan rezekinya. Selama sesuai dengan perintah Allah, tidak perlu menghiba-hiba kepada manusia, kerana manusia tidak dapat memberikan apa pun, tanpa izin Pemilik Semesta Alam.

 
sujud-syukur-2

Kita bergaul dengan manusia, bukan untuk menuhankan, dan memelas kepada manusia. Kita bergaul dengan manusia kerana Allah menyuruh kita bergaul dengan manusia dengan baik. Kita berbuat baik bukan untuk dihargai. Orang menghargai, dan mengakui kebaikan kita atau tidak, bukan urusan kita. Urusan kita adalah bergaul dengan manusia dengan baik sesuai perintah-Nya. Tidak boeh takut kepada manusia. Diri kita milik Allah, tak akan jatuh sehelai rambut pun tanpa izin pemilik-Nya. Tidak akan pernah mati, kecuali Allah yang mematikan.

Manusia bukan pemberi rezeki, manusia hanya makhluk sebagai jalan dari ketentuan Allah. Tugas kita jelas, menjemput rezeki kita dengan cara yang halal. Semua anak-anak kita ada rezekinya. Tugas orang tua membawa anaknya mengenal siapa penciptanya, Lukmanul Hakim menjadi contoh bagaimana seorang hamba Allah, yang tidak bertuhankan selain Allah. Beliau mendidik anak untuk mengenal-Nya, dengan itu akan berjumpa dengan rezekinya yang berkah. Dan akan berjumpa dengan rezeki dan takdir terbaik dalam kehidupannya. Setelah kita mati, warisan terbesar kita kepada anak-anak kita adalah keyakinan dan istiqamah taat kepada Allah.

Dunia ini hanya tempat persinggahan. Semua kita akan tinggalkan. Dunia tidak ada apa-apa. Dunia bukan untuk memperbudak kita, tapi dunia diciptakan untuk menjadi pelayan kita. Harta, pangkat, gelaran, tidak ada apa-apa erti. Orang-orang zalim dan ingkar diberi oleh Allah dunia ini. Kemuliaan bukan dengan pencapaian duniawi, tanda kemuliaan bukan dengan berharta atau berpangkat, melainkan dengan takwa.


Takwa itu tandanya hatinya yakin, patuh kepada Allah, lahir batin. Redha dengan semua takdir yang telah ditetapkan Allah. Allah tidak pernah zalim dalam menentukan takdir kita. Jelas hidup ini hanya singgah sebentar di dunia dan dunia tidak dibawa ke alam kubur.

Siti hajar ketika ditinggalkan Nabi Ibrahim yang merupakan perintah Allah, ia lantas mengikutinya. Lalu tatkala memerlukan air untuk diri dan anaknya, beliau pun berlari-lari mencari air ke bukit shafa dan marwah. Namun air tidak muncul di bukit tersebut melainkan di sekitar ka’bah yang berjarak seratus meteran dari sana.


Maka tugas kita dalam hal ini adalah untuk menyempurnakan ikhtiar, bukan menentukan hasil. Jangan pernah risau dengan janji Allah. Sesungguhnya yang berbahaya bagi diri kita adalah keburukan dari diri kita sendiri. Orang lain hanya menjadi jalan.
sayangi-iman-anda

Sekarang masalah apa pun yang menimpa, jangan sibuk dengan orang yang menjadi jalan, melainkan sibuk dengan diri kita yang menjadi penyebabnya. Kebaikan kembali pada pembuatnya, begitu pula keburukan. Tidak ada yang merosak diri kita selain dari keburukan diri kita.

Ketika kita menghadapi kesusahan, kita tidak dapat menyelesaikan dengan kemampuan kita, melainkan dengan pertolongan Allah. Bagaimana jalan keluarnya? Adalah dengan bertaubat.

Barangsiapa yang memperbanyak istighfar, Allah akan menenangkan hatinya, Allah akan memberi jalan keluar, dan rezeki pertolongan dari yang tidak terduga.‘maka aku katakan kepada mereka:

"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai." (QS Nuh : 10-12)


Rezeki termahal dalam hidup ini adalah hati yang yakin, dan lahiriahnya patuh kepada Allah dengan istiqamah. Kejayaan orang adalah yakin kepada Allah, tidak ada keraguan dalam hatinya. Tidak bersedih hati. Kunci yakin adalah hati yang bersih. Makin bersih dari kemusyrikan, kemunafikan, dan cinta duniawi, hati akan langsung merasakan keyakinan, hati peka, doa mustajab, akhlak mulia, dan auranya tenang. Maka jangan ukur kejayaan seseorang dengan duniawinya, melainkan lihatlah sejauh mana keyakinannya yang merupakan kurnia Allah tidak ada tolok bandingannya.

Sekuat tenaga mengarungi hidup, disusuli dengan semangat kebersihan hati. Cari sahabat yang dapat membantu membersihkan hati. Seperti kereta yang tidak berfungsi whipernya/ pembersih kaca ketika hujan lebat, maka dia akan risau. Bukan tiada jalan, melainkan tidak dapat melihat jalan. Seperti itu pula ketika kita melihat dengan mata hati yang tertutup dosa. Oleh kerana itu, kembalilah kepada Allah, seperti kaca yang bersih, maka akan tampak semua yang ada, kerana tidak tertutup, seperti udara bagi paru-paru ini, penyelesaian sesungguhnya terhampar dekat kita.

Oleh Aa Gym
Terjemahan (BM): antamuSlim


Maqashid Asy-Syariah


Maqashid adalah jamak dari “maqshid”. Menurut bahasa, maqshid bererti tujuan. Sedangkan dalam istilah para ulama, Maqashid Asy-Syari’ah adalah: tujuan-tujuan yang ingin diwujudkan oleh syariat Islam sebagai alasan diturunkannya, demi kemaslahatan hamba-hamba Allah.
Manfaat Mempelajari Maqashid Syari’ah
Ada beberapa manfaat bila kita mempelajari Maqashid Syari’ah, antara lain:
  • Mengungkapkan tujuan, alasan, dan hikmah tasyri’ baik yang umum atau khusus, integral atau sebbahagian di segenap bidang kehidupan dan dalam setiap ajaran Islam.
  • Menegaskan karakteristik Islam yang sesuai dengan setiap zaman, abadi dan realistik
  • Membantu ulama dalam berijtihad dalam bingkai tujuan syariat.
  • Memadukan secara seimbang prinsip “Mengambil zhahir nash” dengan prinsip “memperhatikan ruh dan  substansi nash”
  • Mempersempit perselisihan dan ta’ashub di antara pengikut mazhab fiqih.
Makna Maslahat
Secara etimologi, maslahah bererti manfaat. Bentuk pluralnya adalah mashalih. Dalam istilah para ulama, maslahah adalah: mengambil manfaat dan menolak bahaya. Menurut Imam Ghazali, maslahah adalah: memelihara maksud (tujuan) syariat.

Jenis Maslahat
Maslahat ada beberapa jenis, iaitu Mashlahah Mu’tabarah, Mashlahah Mulghah, dan Mashlahah Mursalah. Masing-masing dijelaskan di bawah ini.
1. Mashlahah Mu’tabarah
Iaitu maslahat yang diakui oleh syariat dengan menetapkan rincian hukum yang dengan jelas bertujuan mewujudkannya. Contohnya:
  • Menjaga agama melalui aqidah, kewajipan solat, syariat jihad, hukum terhadap orang murtad, dll.
  • Memelihara jiwa melalui syariat qishash.
  • Memelihara akal melalui kewajipan menuntut ilmu, pengharaman khamr & hukuman bagi peminumnya.
  • Memelihara keturunan melalui syariat pernikahan, pengharaman zina & hukuman bagi pelakunya.
  • Memelihara harta melalui hukum-hukum transaksi (muamalah maliyyah), pengharaman mencuri & hukuman bagi pelakunya.
2. Mashlahah Mulghah
Iaitu sesuatu yang dianggap maslahat oleh sebagian manusia namun syariat dengan tegas menolaknya melalui penetapan hukum yang tidak menganggapnya sebagai maslahat. Contohnya:
  • Membuat hadits palsu dengan alasan apapun
  • Berlebihan dalam beragama
  • Penetapan puasa 2 bulan berturut-turut bagi orang kaya yang melakukan jima’ di siang Ramadhan
  • Transaksi riba
  • Penyamaan kadar warisan antara anak laki-laki & perempuan.
3. Mashlahah Mursalah
Iaitu maslahat yang tidak dinafikan oleh syariat dan tidak pula diakui secara tegas (didiamkan). Contohnya:
  • Pengumpulan ayat Al-Qur’an dalam mushaf di masa Abu Bakar
  • Penunjukan Umar oleh Abu Bakar sebagai penggantinya
  • Pengadaan penjara di masa Umar
  • Ditumpahkannya susu campuran yang digunakan untuk menipu pembeli di masa Umar
  • Penetapan batas maksimum 4 bulan bagi tentera meninggalkan isterinya oleh Umar
  • Kewajipan negara memberi tunjangan kepada bayi muslim yang lahir di masa Umar
  • Penyatuan kaum muslimin dengan satu mushaf oleh Utsman
  • Penetapan hak warisan oleh Utsman bagi isteri yang dicerai saat suaminya menjelang ajal
  • Perintah Ali kepada Abul Aswad Ad-Du-ali untuk membuat kaedah Nahwu kerana melemahnya kemampuan bahasa Arab kaum muslimin
  • Kewajipan mengganti kepada tukang yang menghilangkan barang pesanan kecuali dengan bukti bukan kecerobohan di masa Ali.
Syarat Penggunaan Maslahat Mursalah
Ada beberapa syarat jika ingin menggunakan maslahat Mursalah, antara lain:
  • Maslahat itu harus berlaku atau berdasarkan prediksi yang kuat dan bukan khayalan.
  • Maslahat yang ingin diwujudkan harus benar-benar dapat diterima akal (logik). Oleh kerana itu maslahat mursalah tidak boleh digunakan dalam ibadah ritual.
  • Harus sesuai dengan tujuan syariat secara umum, dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip umum syariat dan dalil-dalil qath’i.
  • Mendukung realisasi maslahat dharuriyat (memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta),  atau menghilangkan kesulitan yang berat dalam beragama.
Jenis Maslahat Berdasarkan Prioritinya
Jika dilihat berdasarkan prioriti, maslahat terbagi kepada tiga jenis, yaitu Dharuriyat, Hajiyat, dan Tahsiniyat.
1. Dharuriyat
Iaitu maslahat yang amat menentukan kesinambungan agama dan hidup manusia di dunia mahupun di akhirat, yang jika maslahat ini hilang, maka berakibat kesengsaraan dunia, dan hilangnya nikmat serta datangnya azab di akhirat. Menurut para ulama, ada 5 maslahat dharuriyat : Memelihara dien, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
2. Hajiyat
Iaitu maslahat yang diperlukan manusia untuk menghilangkan kesusahan atau kesempitan mereka. Bila maslahat ini tidak wujud, tidak sampai mengakibatkan kehancuran kehidupan, namun manusia jatuh pada kesusahan. Contohnya, berbagai rukhshah dalam ibadah, pembolehan salam dan istishna’ dalam muamalat, syariat thalaq, prinsip “pembatalan hudud kerana syubhat”, kewajiban diyyat atas keluarga pembunuh kerana tidak sengaja sebagai pengganti qishash.
3. Tahsiniyat
Iaitu maslahat yang menjadikan manusia berada dalam adab yang mulia dan akhlaq yang lurus, dan jika tidak terwujud, kehidupan manusia akan bertentangan dengan nilai-nilai kepantasan, akhlaq, dan fitrah yang sehat. Contohnya, menutup aurat dan berpakaian baik dalam solat, taqarrub dengan yang sunnah, larangan berlebihan dalam membelanjakan harta, pengharaman membeli barang yang sedang ditawar orang lain, adab makan & minum, pengharaman mutilasi mayat kerana dendam atau dalam perang, dll.

Beberapa Kaedah
  • Maslahat Dharuriyat adalah tunjang bagi Hajiyat dan Tahsiniyat
  • Hilangnya Dharuriyat automarik berakibat hilangnya yang lain
  • Hilangnya Hajiyat dan Tahsiniyat tidak selalu berakibat hilangnya Dharuriyat
  • Hilangnya Hajiyat dan Tahsiniyat dapat mengganggu Dharuriyat dalam aspek tertentu
  • Harus diusahakan menjaga Hajiyat dan Tahsiniyat untuk kepentingan Dharuriyat.
Referensi Al-Qur’an:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ [٢١:١٠٧]
الر ۚ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ [١٤:١]
يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ [٤:٢٨]
يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ [٧:١٥٧]
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ [٢:١٨٥]
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ [٢٢:٧٨]
(hdn)

~http://www.halaqah-online.com


Tuesday, December 14, 2010

Fadzilah Kamsah Keluarkan Fatwa Boleh Jadi GRO Jika Dharurat


Kenyataan Harian Metro Sabtu, 11 Disember 2010

KUALA LUMPUR: “Jangan memaksa dia (Suzie) terus berhenti daripada pekerjaannya sebagai pelayan pelanggan (GRO), sebaliknya beri masa untuk dia berubah,” kata pakar motivasi terkenal, Datuk Dr Fadzilah Kamsah (gambar) ketika mengulas laporan mengenai seorang GRO yang kini sarat mengandung ingin kembali ke pekerjaan asal sebaik bersalin kerana mendakwa hanya itu pekerjaan mampu dilakukan bagi menyara anaknya itu.

Beliau berkata, dalam kes seperti ini, paksaan untuk berubah bukanlah jalan penyelesaian terbaik untuk membantu wanita itu. “Suzie boleh meneruskan pekerjaannya sebagai GRO, tetapi dalam masa sama dia hendaklah tidak reda melakukan kerja itu hingga mendatangkan kebosanan dan tidak seronok untuk bekerja lagi.

“Dengan cara itu, dia boleh berubah sedikit demi sedikit, kemudian mencari pekerjaan halal yang lain, sebaik mendapat pekerjaan lain, dia perlu berhenti terus melakukan kerja lamanya itu. “Suzie perlu menganggap kerja dilakukannya itu kerana sedang berada dalam keadaan darurat dan perlu cepat-cepat menukar pekerjaan. “Sebaliknya, pihak yang membantu pula perlu memberi bimbingan. Sebagai contoh nasihat yang baik dan mengingatkan dirinya mengenai setiap yang hidup pasti akan mati supaya dia tidak terus melakukan dosa,” katanya.

Menurutnya, wanita itu memerlukan kumpulan penyokong yang kuat yang akan terus memberi semangat untuk dia berubah seperti rakan, jiran dan kewaja sendiri.

“Siapa kita untuk menghukum kesilapan dilakukan Suzie. Jika dia bertaubat nasuha, dosanya semua akan kosong dan dia akan jadi seperti bayi yang baru lahir. Itu janji Tuhan kepada kita.

“Oleh itu, masyarakat tidak boleh menuding jari kepadanya, sebaliknya sama-sama memberi dorongan untuk berubah,” katanya.

Beliau turut menasihati pembaca sama ada yang bersimpati atau yang membenci Suzie mendoakan dia berubah dan kembali ke jalan diredai.

“Saya percaya wanita ini mempunyai masalah dalaman yang agak sukar diungkapkan kerana berat mata memandang berat lagi bahu yang memikul, masyarakat sekeliling harus membantunya keluar dari pekerjaannya ini dengan memberi sokongan dan dekati diri mereka sebagai rakan akrabnya,” katanya.

Ulasan Ustaz

Saya kurang bersetuju dengan pendapat pakar motivasi tersebut, kerana pakar motivasi tersebut bukan berasal dari orang yang belajar agama atau bidang agama, dia hanya pakar motivasi biasa sahaja dan tahu sedikit sebanyak tentang agama. Banyak hujah-hujahnya yang saya tidak setuju seperti dia mengatakan bahawa adanya bohong sunat, sebenarnya dalam Islam tiada bohong sunat, hanya ada helah. Bohong sunat itu disandarkan kepada sunnah Nabi Muhammad saw. Jadi hal ini bertentangan dengan sifat nabi iaitu benar dan amanah. Terbaru dia mengeluarkan fatwa yang berkaitan dengan masalah pelacuran atau GRO dengan mengatakan bahawa boleh teruskan dengan sebab dharurat untuk mendapatkan sedikit sebanyak duit penyaraan anaknya nanti.

Islam tidak pernah meredhoi atau menghalalkan zina walaupun dalam keadaan dharurat sekalipun. Kaedah Fiqh dua perkara yang tidak boleh dilakukan ketika dharurat iaitu membunuh atau bunuh diri dan berzina. Jadi jelas di sini tiada istilah halal melacur atau GRO untuk menyara kehidupannya. Kalau dilihat dari sudut keupayaan dan tenaga pelacur atau GRO tersebut, masih sihat dan bertenaga lagi untuk membuat kerja-kerja yang halal, seperti basuh pingan, kilang, pengawal, peminta sedekah, pembantu rumah, tukang kebun dan sebagainya. Kenapa pulak pakar motivasi tersebut mengatakan dharurat, sepatutnya pakar motivasi tersebutlah yang membantunya memberikan pekerjaan atau wang zakat untuk mengelakkan dirinya terus bergelomang dalam dosa sebab pakar motivasi tersebut adalah jutawan (sindiran semata-mata).

Tidak sesuai kes-kes agama dirujuk kepada pakar motivasi yang jelas bukan dari orang yang ahli agama, sepatutnya kes seperti ini dirujuk kepada orang agama supaya pendapat yang diberikan tidak menyimpang jauh dari syarak. Saya harap pakar motivasi tersebut rujuklah dahulu kepada orang yang pakar agama supaya hujah-hujahnya mempunyai sandaran atau sanat yang teguh dan tidak menyimpang jauh. Hal agama bukan boleh dimain-mainkan, kerana ia mempunyai kaitan dengan dosa dan pahala. Pakar motivasi tersebut perlu membuat kenyataan susulan atas kesilapannya dahulu, supaya masyarakat yang membaca kenyataannya di Harian Metro 11 Disember 2010 tidak dijadikan pegangan ataupun hujah.



~http://www.ustaznoramin.com

Pertanyaan yang telah dijawab

Sebuah kisah di penjara



Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jeneral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap banduan penjara membongkokkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu melintasi di hadapan mereka. Kerana kalau tidak, sepatu 'boot keras' milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di  wajah mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.

"Hai...hentikan suara jelekmu! Hentikan...! " Teriak Roberto sekeras-kerasnya sambil membelalakkan mata. Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan  khusyu'nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.

Dengan marah ia menyemburkan ludahnya ke wajah tua sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyucuh wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang  menyala. Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat galak untuk meneriakkan kata Rabbi, wa ana 'abduka... Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban  itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai  ustaz...InsyaALlah tempatmu di Syurga."

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak marahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-kerasnya sehingga terjerembab di lantai.

"Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Sepanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan  bapa kami, Tuhan Jesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan 'suara-suara' yang seharusnya tidak didengari lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mahu minta maaf  dan masuk agama kami."

Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia lalu berucap, "Sungguh...aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, ALlah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemahuanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh."

Sejurus sahaja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto berusaha memungutnya. Namun tangan sang Ustaz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. "Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto.

"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!"ucap sang ustaz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan  buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustaz yang telah lemah.

Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga  mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan 'algojo penjara' itu merasa  lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya baran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

"Ah...seperti aku pernah mengenal buku ini. Tetapi bila? Ya, aku pernah mengenal buku ini."
Suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.

Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi kekecohan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia.

Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin petang yang kencang, membuat pakaian muslimah yang  dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda  Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mahu memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang kanak- kanak laki-laki comel dan tampan, berumur sekitar tujuh tahun, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Kanak kanak comel itu melimpahkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan kanak - kanak itu mendekati tubuh sang ummi  yang tak sudah bernyawa, sambil menggayuti abinya. Sang anak itu berkata  dengan suara parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa....? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi..."

Budak kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus dibuat. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya budak itu berteriak memanggil bapaknya, "Abi...Abi.. .Abi..." Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapa ketika teringat petang kelmarin bapanya diseret  dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai...siapa kamu?!" jerit segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati budak tersebut. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..." jawabnya memohon belas kasih. "Hah...siapa namamu budak, cuba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka. "Saya Ahmad Izzah..." dia kembali menjawab dengan  agak kasar. Tiba-tiba "Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil. "Hai budak...! Wajahmu cantik tapi namamu hodoh. Aku benci namamu. Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik. Namamu sekarang 'Adolf Roberto'...Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki-laki itu."

Budak itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitiskan air mata. Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya budak tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada  tubuh sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeria, "Abi...Abi.. .Abi..." Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku  kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang  dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua  ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bahagian pusat.

Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas tingkah-lakunya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi... aku masih ingat alif, ba, ta, tha..." Hanya sebatas kata itu yang masih terakam dalam benaknya.

Sang ustaz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat  seseorang yang tadi menyeksanya habis-habisan kini sedang memeluknya. "Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu..." Terdengar suara Roberto meminta belas.

Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap. "Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal  dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu," Setelah selesai berpesan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah "Asyahadu anla IllaahailALlah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah. ..'. Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.

Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, 'Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya... "

Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.


Benarlah firman Allah...
"Maka hadapkanlah dewajahmu ngan lurus kepada agama ALLAH,  
tetaplah atas fitrah ALLAH yang telah menciptakan manusia
menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah ALLAH.
Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui." (QS>30:30)

Syeikh Al-Islam Turki yang terakhir iaitu As-Syeikh Mustafa Al Basri telah menegaskan dalam bukunya .....Sekularisma yang memisahkan ajaran agama dengan kehidupan dunia merupakan jalan paling mudah untuk menjadi murtad.

Dari : Al-Manahil

bila si lemah mula bermadah




"ish.. tak suka la dia ni.."
"isk..isk.. sedihnya.. rasa left out" "nape aku buat sume salah pada dia?" "caraku dan caranya berbeza!"
"aku ni jahat sgt ke?"


"ssh la.. baik duk sorg diri je camni."
"alah.. cam bagus je dia ni"
"marahnya..geram tul..aku tau la apa nak buat"
" sibuk je dia ni!!"



ni adalah antara bisikan2 hati yang cuba meretakkan hubungan saudara
sesama muslim..
(sbnarnya.. saya yg banyak berperang ngn hati sendiri..huhuhuhhu)


kadang2 rasa pelik..kenapa banyak sgt sangkaan buruk dtg bile hati
mula sedar ttg matlamat sebenar hubungan cinta dan persahabatan
sesama manusia keranaNya??



bile hati mula cuba menabur keikhlasan cinta dan sayang sesama
barisan pejuang, bisikan2 ini menjelma seolah2 cuba menggoyah
ketulusan hati !!



mengapa rasa sayang yang tersemai kepada sahabat di luar bulatan
ini dirasakan lebih mewangi dan berseri?
semakin dilayan perasaan ini..


sedih dan pilu datang menderu..
ada saja yang tak kene..
perbualan dan pergaulan serasa hambar..
setiap butir bicaranya ibarat pisau merobek jiwa..
setiap kata yang lahir dari lidah sendiri juga sering disalah erti..


sedangkan ukhuwwah fillah sesama jemaah seharusnya gah!
kekadang termenung sendiri..
mahu diluah..tiada telinga yang sudi menadah..
bimbang dan segan dilabel menyusahkan..
kenapa rasa benci dan marah ini hadir..??


sememangnya sedar ini hanya angkara syaitan durjana yang cuba
menyiram iri dan dendam di dalam diam..
tapi kenapa diri sering lemah dan kalah walau dengan sedaya upaya
arus ditongkah??



benteng sabar sering roboh walau badai yang datang tidaklah kencang..
hati sarat berperang.. namun jasad dipaksa tenang..
lantas tiada yang perasan.


hati menjerit sendiri..benci, marah, iri..semua datang bertubi..
sedikit demi sedikit.. hati semakin lemah.. jiwa resah gelisah.
otak mula mencari akal..
supaya genggaman tangan ini kendur tidak
seutuh dulu..
serasa mahu berundur..


ttiiiddaaakkk!!!
hati membentak.!
jangan cepat ternoda..
tak sudi melihat syaitan bersorak gembira tatkala hati ini merintih
kecewa..
jangan mudah tunduk dengan api lagaan iblis terkutuk.
walaupun pedih kalbu dicucuk..


redha Illahi selayaknya dicari bukan iri yang menyemarak benci..
mujur ada sekelumit iman tersorok jauh di lubuk hati.
segera diri mencari arah..

 

ahh.. disana..dapat dilihat bayang mereka dengan gagah menghayun langkah..
cepat-cepat diri dipaksa berlari walau penat..walau lelah.. 


kerana rehat di akhir destinasi sana lebih indah! perjalanan ini memang payah.. bila tenaga semakin lemah, segera kembali kepada Allah.!!



Ya Allah...tunjukkan aku jalan yang lurus..jalan orang2 yang Kau beri nikmat bukan jalan org2 yang sesat.. Amin.



"sesungguhnya Allahlah yang memegang hati-hati kita"



Seperti membasuh kereta



Petang yang cerah. Suasana di dalam rumah kembali hidup. Masing-masing baru sahaja menunaikan solat Asar. Sebelumnya, ada yang tidur, ada yang membaca buku dan ada yang hanya merehatkan fikiran di depan televisyen. Ibu sudah bersiap-siap dengan bahan-bahan untuk membuat cucur ikan bilis. Ayah pula mengeluarkan baldi dan kain buruk. Abang masih di dalam bilik. Entah apa yang dia lakukan. Adik lelaki yang seorang itu ditugaskan untuk merumput di belakang rumah. Sekali-sekala dia pulang bercuti, kenalah mengeluarkan peluh sedikit.


Aku pula tercongok di depan beranda rumah. Melihat telatah ahli keluargaku satu persatu. Ingin sahaja aku membantu ibu di dapur kerana itulah yang paling sesuai untukku sebagai satu-satunya anak gadis di dalam keluargaku. Setelah membasuh dan menyusun pinggan mangkuk, aku kembali keluar rumah. Adik lelakiku tidak jadi merumput, dia memilih untuk meracun. Aku melihat ayah dari jauh. Terus aku mendapatkannya untuk membantunya. Lantas dia berkata, “Boleh basuh kereta? Ayah kena keluar sekejap, nak jumpa Pak cik Kassim.”

Aku tersenyum. Memanglah boleh. Tetapi bila difikirkan sudah empat tahun aku tidak membasuh kereta. Sejak aku melanjutkan pelajaran di luar negara, aku memang tidak berkereta dan kawan-kawanku juga sama. Kami hanya menggunakan pengangkutan awam yang aku kira boleh diharapkan berbanding mutu pengangkutan awam di Malaysia.

Sebelum  ayah pergi, dia menunjukkan enjin kepadaku.
“Tengok sini. Kena ‘check’ dulu enjin ni. Tengok minyak ada lagi ke tak, kalau dah merah tu, pandailah-pandailah isi minyak. Jangan tahu bawa saja.”
Ayah memerliku yang sememangnya hanya tahu memandu kereta sahaja. Pernah sekali kereta mati di tengah-tengah jalan, gara-gara aku terlupa mengisi minyak. Tiada petrol, kereta memang tidak boleh bergerak.

Sedang ayah menceritakan serba serbi mengenai enjin kereta, aku mula beranologi. Dakwah seperti membasuh kereta. Bermula dengan asas paling utama iaitu aqidah. Aku mengandaikan aqidah samalah seperti petrol kereta. Andai tiada petrol, kereta tidak boleh bergerak. Manakala, enjin itu seperti ibadah dan kereta itu sendiri adalah akhlak.


Aku mula membayangkan kereta itu ada petrol dan ada enjin yang bagus. Tetapi bentuknya kurang menarik. Orang memang takkan membelinya. Mungkin ada yang membeli tetapi jumlahnya pasti kurang.Teringat aku tentang kereta kotak buatan Malaysia-Jaguh. Tidak laku di pasaran kerana rakyat Malaysia tidak meminati bentuk petak sebegitu. Samalah seperti dakwah. Orang-orang yang mendukungnya perlu berakhlak baik kerana akhlak yang baik itu tidaklah menjanjikan orang tertarik tetapi akhlak yang buruk itu pasti membuatkan orang menjauhinya.

Kubayangkan kereta yang cantik tetapi enjinnya kurang baik. Maknanya, fitrah orang memang boleh berbudi bahasa, berpekerti mulia.selalunya orang berkata, “ Ala, si polan tu, harap saja bertudung, perangai tak senonoh juga. Lebih eloknya si polan yang tak pakai tudung seblah rumah kita ni. Tak pakai tudung pun ,selalu juga bertanya khabar, ambil berat hal-hal jiran.” Ikutkan aku, sememangnya tiada kaitan antara bertudung atau tidak dengan adab-adab berjiran. Bertudung telah menyempurnakan satu tanggungjawab sebagai Muslim. Menjaga hubungan dengan jiran adalah astau perkara lain. Tetapi, hakikatnya seorang yang sudah benar aqidahnya dan sudah sahih ibadatnya, akan terpancarlah akhlak mulia itu secara semulajadinya tanpa dibuat-buat. Tentang adat pula, sememangnya harus dipelajari kerana lain tempat,lain pula adatnya. Cuma aku lihat, ornag selalu tidak dapat membezakan adapt dengan syariat. Terkeliru dengan warisan nenek moyang dahulukala.

Percambahan fikiranku terhenti di situ. Ayah menyuruh aku memeriksa air. Ayah kata kereta lama memang harus selalu diperiksa begini. Kereta baru biasanya dihantar untuk diservis. Orang  yang akan periksan untuk kita.


“Tengok minyak brek.”
“Ha? Minyak brek? Kat mana ye ayah?”
“Kan ayah dah tunjuk tadi kat mana. Awak buat apa tadi?”

Aku senyum menyeringai. Mengelamun kejap ayah. Ingin saja aku menjawab sebegitu. Ayah meminta  aku mengambil minyak brek.

“Minyak brek memang warna merah ye?”
“Ni guna Dot 3. Kalau kereta baru macam Naza Bestari  guna Dot 4. Warna kuning minyaknya.”

Aku mengangguk. Macam-macam lagi yang aku tidak tahu pasal kereta. Patutlah ayah selalu risau kalau aku ingin memandu jauh-jauh. Setakat melawat-lawat rumah saudar-mara sekitar bandar bolehlah,tetapi, kalau baik kampung, pasti kena berteman abang atau adik.

Kini selesai memeriksa bahagian enjin kereta. Ayah masuk ke dalam rumah semula untuk mengambil topi keledar. Apabila motor ayah sudah jauh kedengaran, aku kembali dengan tugasku-membasuh kereta!

Air sabun sudah ada. Kain mengelap juga sudah berada di tangan. Aku terpinga-pinga bahagian mana harus dibersihkan dahulu. Aku melihat ada lumpur di bahagian bonet. Lantas aku membersihkannya dahulu. Tiba-tiba aku disergah dari belakang. “Apa kakak buat ni. Mana boleh basuh bonet belakang dulu. Dah besar kan, takkan ayah nak cakap lagi,” adik lelakiku mengulang ayat ayah yang popular.


“Habis tu itu yang paling kotor. Kakak basuh yang tu dulu.”
“Kakak ni mana boleh suka-suka hati. nanti tak bersih kereta ni.Ni biar adik cakap, kakak ikut je.”

Analogi bersambung. Inilah realiti dakwah. Sekalipun aku lebih tua, tetapi adik lebih berpengalaman,maka, aku harus belajar daripadanya. Seperti juga dakwah. Umur dan ‘seniority’ bukan alasan untuk tidak merujuk kepada yang lebih tahu. Realiti kawasan tempat kita pasti berbeza dengan yang lain. Matlamat yang sama tetapi cara adakalanya harus berbeza.  Aku memang berfikir ikut logik tadi, tetapi ada cara yang lebih logik. Cara adik aku ternyata lebih baik walaupun matlamat kami sama iaitu kereta harus bersih.

Pertama, aku harus ‘membasahkan’ kereta. Secara amalinya, aku harus meneyembur air ke seluruh kereta dan mebuang kotoran-kotoran seperti lumpur dengan air. Pancuran air yang laju akan menanggalkan kotoran. Malah, aku kini boleh melihat kesuluruhan kereta. Mana yang lebih kotor, mana yang perlu diberi perhatian semasa pembersihan. Samalah seperti kawasan kita berdakwah. Harus melihat seperti mata burung yang terbang di angkasa. Harus mengambil kira pelbagai sudut pandangan. Malah, kita harus memahami cara, adat, sosial, dan segala aspek kawasan kita. Sememangnya tidak perlukan perincian tetapi gambaran awal mengenainya. Maka, pada awalnya kita tebarka dakwah kita pada semua. Dakwah kita bersifat umum.

Kain tadi aku basuh semula. Sudah kotor dengan lumpur. Itu logiknya. Jika aku terus menggunakannnya, habis satu kereta akan ada kesan lumpur. Jika tidak pun, nampaknya setiap selepas satu bahagian, aku harus selalu membersihkan kain tadi. Pastinya membazir banyak masa.


Kini, aku bermula dengan bahagian cermin. Cermin adalah kawasan yang paling bersih. Analogiku terus berputar. Kalau dakwah itu bermula dengan tayar, pasti sukar. Jika dimulakan dengan cermin, lebih cepat  bersihnya cermin itu berbanding tayar. Aku mula membandingkan pengalamanku bercakap menegnai sejarah umat Islam dengan sahabatku di universiti dengan adikku yang seorang ini.  Lebih senang bercakap dengan orang yang intelektual dan berpandangan jauh kerana mereka mudah nampak dan jelas dengan situasi masyarakat sekarang. Aku hanya duduk-duduk sahaja di kusyen selepas solat dan membaca al-Quran. Kebetulan sahabatku juga duduk di situ. Aku teraca satu ayat yang menarik dan mula bercerita mengenainya dengan sahabatku, sehingga kami masuk ke cerita sejarah umat Islam. Berbeza dengan adikku yang sebhagian hidupnya dengan motor. Aku mencuba bercerita ketika kami sedang makan. Tetapi dengan selamba dia menutup segala ruang-ruang yang ada. “Kakak, ni cerita dahulu. Kita zaman sekarang. Malaysia pun aman.Tak payah nak ambil tahu pasal orang lain.Buat pening kepala saja.Masalah kita sendiri pun tak selesai. Baik jaga diri sendiri,” lancar saja dia mengeluarkan pendapatnya. Tergumam aku seketika. Kini aku faham mengapa betapa kita perlu memulakan pada cermin dahulu bukannya tayar.

Cermin, kalau dibandingkan dengan tayar, mungkin tayar lebih penting. Dalam masyarakat kita majoriti adalah tayar. Tanpa tayar, kereta juga tidak dapat bergerak. Aku bermian-main lagi dengan anologiku. Mungkin sebab itu kita harus menitik beratkan soal tayar. Bukan dari segi kebersihannya tetapi ketahanan tayar itu. Bunganya dan anginnya kena berkeadaan baik. Golongan sebegini harus sentiasa diingatkan dengan tazkirah dan ceramah. Harus diperiksa selalu supaya bunganya yang haus boleh diganti baru atau anginnya yang kurang boleh ditambah. Mereka mungkin golongan cemdiakawan tetapi mereka jentera masyarakat. Segala nilai yang kita cuba serapkan ke dalam masyarakat, kesanlah harus dilihat melalui golongan ini.

Akan tetapi pentingnya cermin itu bersih supaya pemanduan lebih lancar. Andai cermin itu kabur dan tidak jelas, bahayanya lebih besar dari tayar yang botak dan kurangnya angin. Jarak kereta sukar dianggarkan dan bahaya dari depan dan belakang tidak dapat dikenal pasti.
Adik memerhatikan saja aku membasuh kereta. Bukan tidak mahu menolong tetapi aku tahu dia sudah penat meracun rumput tadi. Bahagian-bahagian kereta yang lain pun sudah selesai kucuci. Kini tinggal tayar dan rim kereta. Air sabun yang tadinya puti jernih sudah bertukar warna. Aku sendiri ragu-ragu, masih berkuasakah air ingin membersihkan lagi? Ah, terasakan diri agak bodoh juga. Tayar dan rim tidaklah memerlukan air yang bersih. Sememangnya tayar dan rim berada di bawah. Adik memberikan berus menggantikan kain.

Aku senyum. “Ini baru betul,”bisik aku dalam hati. kawasan ini memerlukan berus yang memberikan impak perbersihan yang lebih kuat daripada kain tadi. Kain bagus tetapi berus lebih bagus. Fikiranku merawang kembali. Sesetengah orang tidak dapat kita tawan hatinya dengan cara yang biasa, walaupun cara itu berkesan hampir pada setiap orang. Adakalanya kita sebagai da’ie perlu keras sedikit, berseni sedikit dan bermain sedikit untuk menawan hati seseorang supaya dia kembali kepada Islam yang syumul. Matlamatnya sama tetapi cara harus berbeza sedikit. Minda kita harus kreatif. Hati juga harus tetap kukuh. Harus berani. Kita bukan berkreatif untuk mencipta sesuatu yang kreatif, kita bukan berseni untuk menonjolkan kesenian dan kita bukan bermain untuk sekadar bermain-main, kita berusaha demi satu cita-cita-supaya Islam tertegak di muka bumi ini.


Tiba-tiba aku terasa seprti ada air yang menitik atas kepalaku. Seperti hujan. Aku bangun dan menoleh ke belakang. Adik sedang menyembur kereta. Aku memanggilnya sebagai sesi bilasan.  “Kakak, ni ada yang tak bersih ni. Macam mana kakak sental ni?” adik mengkritik hasil kerjaku. Kita tidak perlu melatah. Kita tidak perlu marah. Terima teguran untuk memperbaik diri. Kadang-kadang dalam bekerja kita memnag melakukan kesilpan. Kesilapan kecil kita dalah besar pada mata masyarakat. Harus tahu bagaimana untuk menghadapinya.


“Bahagian mana tu? Biar kakak bersihkan,” aku menutur laju tetapi lembut. Senyum mengakui kesilpaan sendiri.

Ayah sudah pulang. Dia melihat  aku dan adik masih membilas kereta.

“Bahagian dalam kereta dah bersihkan?” ayah bertanya.
“Nak vakum ke?”
“Bukan bahagian tu, tapi bahagian ni,” jelas ayah sambil membuka pintu dan menunjukkan bahagian ranka pimtu kereta .

Aku menganguk dan segera mencapai kain buruk tadi.
Kadang-kadang kita merasakan kita telah melakukan segalanya. Tetapi ada sahaja bahagian yang kita tidak nampak atau tertinggal. Barangkali juga kita tidak tahu. Maka, sentiasa ambil tahu. Kena sentiasa belajar. Usaha itu tidak akan pernah berhenti.

Abangku rupa-rupanya melihat telatah kami dari tadi. Dia senyum sahaja. Aku tidak faham mengapa dia tidak turut serta tadi.

“Dua orang basuh satu kereta nak dekat satu jam. Dulu abang seorang basuh dua kereta, setengah jam saja,”abang memerli kami.
“Lain kali basuh macam ni. Bersihkan satu bahagia ke satu bahagian. Tengok kereta ni dah dibahagi-bahagikan ikut keping-keping ida. Baru cepat dan bersih semua bahagian. Takde yang tertinggal macam tadi.”

“Baiklah,” aku mengangguk. Kini ada cara berbeza. Strategi juga berbeza. Aku lebih senang dengan cara adikku tadi. Sebenarnya tiada yang salah. Begitu juga dalam dakwah ini. Kita boleh saja berbeza wasilah, malah tidak perlu bergaduh mengenainya. Tidak berguna menetuka siapa betul, siapa salah. Jika harus bekerja berasingan mengikut wasilah yang berbeza, maka teruskan. Janganlah kita berusaha mencari kebenaran mengenai cara kita tetapi carilah kebenaran melalui cara kita.


Sebulan berikutnya, aku membasuh kereta dengan menggabungkan cara adik dan abang. Hasilnya kereta lebih bersih dan masa membasuh dapat disingkatkan . Tetapi mungkin juga bukan hasil percampuran dua method tetapi kerana aku sudah cekap membasuh kereta.